Diklat prajab ahoy!

Kalau judul tulisan ini terdengar bersemangat, yakinlah itu cuma pencitraan. Aslinya saya mumet.

Diklat prajab yang saya jalani ini pakai gaya baru, yang mesti bikin rancangan kegiatan aktualisasi, diimplementasikan (kegiatan luar kelas selama 2 minggu) dan dievaluasi. Mirip-mirip Proyek Perubahan-nya Diklat PIM lah, pakai mentor dan coach segala. Dan sebagai angkatan pertama yang pakai diklat gaya baru ini, tentu saja pesertanya meraba-raba dalam gelap, karena ancar-ancar dari diklat prajab yang lalu-lalu tak banyak berguna.

27 April 2015

  • Orientasi diklat, yang belum apa-apa sudah bikin cemas saja.
  • Didapuk untuk memimpin doa hari pertama. You guys insane, choosing me? Masuk neraka lah kita sama-sama o<-<

//apdet per 6 Juni 2015

28 April s.d 9 Mei 2015

Ini berdasarkan ingatan saja, karena nggak sempat menulis di waktu diklat.

  • Karena BKD Beltim belum punya fasilitas asrama, kami diinapkan di hotel kelas melati. Saya dapat jatah kamar berdua dengan Harwanto, bendaharawan dari Puskesmas Gantung. Kamarnya nyaman sih, selain fakta bahwa showernya mati dan kami harus mandi dari ember o<-<
  • Baca lebih lanjut

Anomali rasio tenaga kesehatan

Tahun ini kali pertama saya ditugaskan mengolah data profil kesehatan tahunan. Tidak terlalu berat sih, kecuali mengusut data yang tidak sinkron kiri-kanan😄. Soal analisa data tentunya ada di kewenangan yang lebih atas, tapi ada beberapa data yang cukup mencolok bahkan untuk staff ecek-ecek macam saya.

Data yang paling mencolok adalah pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan. Ketersediaan dokter (umum, spesialis, gigi), tenaga farmasi, sanitarian, dietisian, keterapian fisik, teknisi medis secara konsisten dari tahun ke tahun jauh di bawah rasio yang disyaratkan Rencana Pemenuhan Tenaga Kesehatan 2011-2025. Sebaliknya perawat dan bidan malah sudah memenuhi rasio proyeksi 2025.

Ini tidak hanya terlihat di Belitung Timur, tapi juga di seluruh kabupaten/ kota di provinsi Kep. Bangka Belitung. Jangan-jangan di tingkatan nasional juga malahan. Kenapa muncul anomali ini, tentu pemegang kebijakan yang lebih paham.

Biaya lolos CPNS

Pendaftaran

  • Kartu pencari kerja/ AK.1: free
  • Legalisir ijazah: Rp 10.000
  • SKCK (termasuk sidik jari): Rp 45.000
  • Surat keterangan sehat + bebas narkoba (di RSUD Pangkalpinang): Rp 210.000
  • Fotokopi, meterai, kirim pos, dll: Rp 50.000

Ujian

  • Transport kapal cepat Pangkalpinang-Tj. Pandan PP: Rp 400.000
  • Mobil travel Tj. Pandan-Manggar PP: Rp 100.000
  • Penginapan: free (numpang di kontrakan adek)
  • Peralatan ujian (papan alas, pensil, penghapus): Rp 50.000 (?)
  • Fotokopi soal latihan: Rp 38.000 //ini mestinya pakai pdf saja

Pemberkasan

  • Transport pesawat Pangkalpinang-Tj. Pandan PP: Rp 740.000
  • Mobil travel Tj.Pandan-Manggar PP: Rp 100.000
  • SKCK: Rp 10.000
  • Surat keterangan sehat + bebas narkoba (di RSUD Manggar): Rp 140.000
  • Meterai: Rp 60.000 //bought too much

Total jendral Rp 1.953.000. Dibulatkan jadi dua juta rupiah saja.

Biaya “orang dalam”? Biaya “penerimaan SK”? Biaya “penempatan tugas”? Maaf saja, penerimaan CPNS di Belitung Timur transparan dan akuntabel. Jangan samakan dengan daerah tertentu yang (gosipnya) mesti bayar ratusan juta, atau yang bupatinya menganulir seluruh CPNS yang diterima karena kecewa cuma sedikit “putra daerah” yang lulus tes (ya ini nyata, coba googling “CPNS Rokan Hilir 2013”).

Laporan ngesot di Manggar

  • Manggar itu PANAS. Jangan berharap angin semilir, apalagi sepoi-sepoi.
  • Sekalinya ada petir, njperet menggelegar, macam ada yang mau diazab.
  • Jalannya mulus, setidaknya lebih dari layak untuk kendaraan. Saya muter-muter nyari jalan berlubang, kok susye bener.
  • Masih tentang jalan, jarang ada jalan yang lurus disini. Melengkung-lengkung sekenanya, bahkan di persimpangan. Boleh jadi anda pikir sedang mengarah ke utara padahal muter ke timur-selatan-barat.
  • Tidak ada transportasi umum, entah itu biskota, angkot, becak, ojek, delman, dll.
  • Sepeda dan sepeda bermesin nampaknya cukup populer di sini.
  • Penduduk Manggar diperkirakan hanya sekitar 38.000 jiwa, tidak heran kalau jalanan rada lengang.
  • Banyak rumah makan padang dan warung pecel lele lamongan, tapi warung bakso bisa dihitung dengan tangan.
  • Warung kopi berhamburan. Ramai di pagi hari, PADAT SESAK di malam hari. Siang bolong malah kosong melompong.
  • Tidak ada BNI, tidak ada BCA, tidak ada Danamon. BRI dan Mandiri tentu saja dapat diandalkan
  • Tidak ada parkir liar, bahkan tidak ada petugas parkir resmi pemda.
  • Manggar sangat aman, jarang terdengar kasus kriminal.
  • Terlalu banyak Anacardium occidentale. Bahkan sampai ada satu hutan isinya pohon itu doang. Padahal saya kira Artocarpus altilis yang mendominasi.
  • Seperti halnya di Bangka, di sini telur ayam dijual per butir. Bikin heran teman dari Jawa yang hendak beli telur 2kg.
  • Baru ketemu 1 warnet doang.

Pengisian SSP PPh 22 bagi rekanan yang tidak memiliki NPWP

Menurut “kitab suci” Buku Panduan Bagi KPPN dan Bendahara Pemerintah sebagai Pemotong/ Pemungut Pajak-Pajak Negara terbitan tahun 2011, jika rekanan belum mempunyai NPWP, maka kolom NPWP pada Surat Setoran Pajak PPh 22 diisikan dengan format 04/01.000.000.0-XXX.000. XXX adalah kode KPP tempat domisili pembayar pajak/ rekanan.

panduanBendahara_pemungutanPPh22

Rupa-rupanya, ketentuan itu sudah tidak berlaku lagi. Mau disetor tapi katanya kasir bank nggak bisa diinput. Menurut petugas Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Pangkalpinang, kini jika rekanan belum mempunyai NPWP, maka kolom NPWP pada Surat Setoran Pajak PPh 22 menggunakan NPWP Bendahara Pengeluaran.

Itulah kalau tidak apdet pengetahuan.

Dan eh, tentu saja tarif tetap dikenakan 100% lebih tinggi dibanding rekanan yang memiliki NPWP

CPNS

Jadi, masuk ke tahun 2014 ini saya akan menghadapi perubahan baru: diterima sebagai CPNSD di Pemkab Belitung Timur. Tidak disangka-sangka sebetulnya, karena ikut ujiannya pun tidak serius-serius amat. Walaupun begitu, tetap akan serius saya jalani. Terlalu banyak peluang-peluang yang saya sia-siakan, atau anggap remeh selama ini. Kesempatan kali ini akan saya pegang teguh sebaik-baiknya.

Pendaftaran

Sebenarnya, ini pertama kalinya saya mencoba ikut tes CPNS, suwer. Jadi rada kagok ngurus berkas-berkas syarat pendaftaran.

Target pertama, Badan Narkotika Nasional. Belum-belum sudah gagal di kelengkapan berkas. Mungkin karena nekat pakai ijazah PT berakreditasi C padahal yang diminta minimal B. Mungkin karena pakai SKCK keluaran Polda padahal yang diminta keluaran Polres. Mungkin karena ikut-ikutan rekan sekantor nekat kirim berkas pendaftaran pakai JNE-satu-hari-dijamin-sampai bukannya lewat Pos Indonesia, karena baru kelar seluruh berkas di batas hari terakhir (padahal pengalaman rekan lain yang tahun kemarin kirim lamaran via JNE tetap diproses).

Target berikutnya, Pemprov dan Pemkab di Bangka-Belitung. Sudah mendaftar di Pemprov, tapi lalu berubah pikiran, urung melengkapi berkas syarat pendaftaran. Incar lowongan di Pemkab Beltim saja. Pertimbangan saya, formasi-formasi yang bisa saya ikuti mensyaratkan ijazah “prodi sejuta umat”, peluang sudah tentu tipis slim-to-none. Lebih baik ambil yang agak jauh sekalian, jadi ada alesyan untuk sekalian jalan-jalan. Apalagi, ada adik saya yang bertugas di Manggar, jadi ada yang bisa ditebengi nginap dan diseret nganterin jalan-jalan.
Baca lebih lanjut

Tentang invasi politik praktis terhadap kampus

Mari kita merujuk pada Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI Nomor: 26/DIKTI/KEP/2002 tentang PELARANGAN ORGANISASI EKSTRA KAMPUS ATAU PARTAI POLITIK DALAM KEHIDUPAN KAMPUS

Dikutip:

Pertama: Melarang segala bentuk organisasi ekstra kampus dan Partai Politik membuka Sekretariat (Perwakilan) dan atau melakukan aktivitas politik praktis di kampus

Yang seperti apa dapat digolongkan sebagai “aktivitas politik praktis”? Apakah yang agak nyerempet-nyerempet semacam “usaha pencitraan” bisa dianggap sudah termasuk politik praktis? Bagaimana dengan aktivitas keagamaan yang dipakai membungkus agenda politik suatu entitas yang ngakunya partai politik tapi menolak ikut sistem politik?

//bekas mahasiswa yang kurang merenung