November 29, 2009
Rangkui adalah nama sungai di Pangkalpinang. Waktu kecil dulu, sungai Rangkui itu lumayan bening. Setidaknya masih bisa untuk bocah-bocah nyebur disana sore-sore.
Sekarang keadaannya berubah 180 derajat. Air sungai Rangkui warnanya kini butek kehijauan di hilir dan hitam di hulu. Saking hitamnya bisa untuk bercermin. Bau pula macam got. Mungkin mau menyaingi Ciliwung.
Eh ya, sempat juga dimarahi sama seorang warga pinggir sungai waktu mau njepret foto di atas. Si ibu nyerocos “Jangan cuma ambil foto, sungainya tuh dibersihkan” (ini cuma penyederhanaan dari omelan si ibu, untung telinga sudah di”tebal”kan). Lha saya ini cuma sekedar lewat kok bu. Yang berwenang membersihkan sungai ini ya Dinas Kebersihan. Atau Dinas PU?
Mungkin harus dikeruk juga, karena pendangkalannya amat parah. Perkara gampanglah untuk Pemkot, wong ngeruk kolam retensi Kacang Pedang saja bisa kok. Kapan? Ehm, sebagai rakyat biasa, itu jauh di luar daya jangkau terawang saya….
Leave a Comment » |
Foto | Ditandai: Pangkalpinang, Foto, Bangka, Sungai |
Permalink
Ditulis oleh Willy Permana
November 18, 2009

Say wut?
Tema hari jadi kota Pangkalpinang tahun ini adalah “Dengan semangat hari jadi kota Pangkalpinang, kita wujudkan Pangkalpinang sebagai pusat perdagangan dan jasa yang berdaya saing untuk peningkatan kesejahteraan dan antisipasi dinamika sosial yang universal“
Yang ditulis tebal itu maksudnya apa ya?
Leave a Comment » |
Foto, Usil | Ditandai: Foto, Pangkalpinang |
Permalink
Ditulis oleh Willy Permana
November 10, 2009

Tidak ada kata unorganic di kamus
Unorganic? Did you mean anorganic?
Foto dijepret di SMKN 2 (STM) Pangkalpinang.
Leave a Comment » |
English, Foto, Usil | Ditandai: English, Foto, Pangkalpinang, sampah, SMK |
Permalink
Ditulis oleh Willy Permana
November 8, 2009
Ini cerita beberapa hari yang lalu.
Saya sedang cari buku di Gramedia, dan kebetulan dapat satu. Setelah baca buku “bukaan” satu jam-an, saya ke kasir, membayar buku yang mau saya beli. Nah, disinilah kekonyolan dimulai.
Saya (S) :Nggak usah pakai kantong plastik, mbak (menyerahkan uang)
Kasir (K) : Nggak pakai plastik ? (menerima uang)
S : Iya, nggak usah.
Mbak kasirnya lalu proses pembayaran, struknya tercetak, eh mbaknya malah ambil kantong plastik.
K : Betul nggak pakai plastik, pak?
S : (waduh saya dipanggil ‘pak’) Iya nggak usah mbak
Mbak kasirnya lalu ambil kembalian dari register, lalu menyerahkan kembalian dan struk ke saya. Eh, buku saya masih mau dimasukkan ke kresek cap Gramedia itu.
K : Betul nggak pakai plastik, pak?
S : *ngangguk*
Ditanya sampai tiga kali, memangnya minum obat?
Leave a Comment » |
Unek-unek | Ditandai: Buku, Gramedia, Plastik |
Permalink
Ditulis oleh Willy Permana